Radiologi Indonesia sedang memasuki babak baru.
Selama bertahun-tahun, pembahasan tentang PACS di rumah sakit biasanya berputar pada tiga hal:
menyimpan gambar, melihat gambar, dan mengirim gambar.
Namun perkembangan digital healthcare di Indonesia membuat fungsi tersebut tidak lagi cukup.
Pada 1 September 2026, Kementerian Kesehatan meluncurkan SATUSEHAT Rekam Medis Elektronik (RME) sebagai bagian dari upaya mengintegrasikan data kesehatan pasien dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan secara nasional. Data yang diintegrasikan mencakup berbagai informasi medis, termasuk radiologi.
Pada saat yang sama, dokumentasi teknis SATUSEHAT telah menjelaskan arsitektur pengiriman data radiologi yang melibatkan DICOM, PACS, DICOM Router, National Imaging Data Repository (NIDR), dan FHIR ImagingStudy.
Perubahan ini membawa sebuah pertanyaan penting:
Apakah PACS masih hanya berfungsi sebagai tempat menyimpan gambar radiologi?
Jawabannya semakin jelas:
PACS sedang menjadi bagian dari ekosistem data imaging yang lebih luas.
Dari Film ke Ekosistem Imaging
Perjalanan radiologi digital dapat dilihat dalam beberapa tahap.
Tahap pertama: Film
X-Ray → Film → Dokter
Gambar disimpan dan didistribusikan dalam bentuk fisik.
Tahap kedua: Digital Imaging
Modalitas → Digital Image → Workstation
Gambar mulai tersedia dalam format digital.
Tahap ketiga: PACS
Modalitas → DICOM → PACS → Viewer
Gambar dapat disimpan dan diakses secara terpusat.
Tahap keempat: Integrated Radiology
Modalitas → DICOM → PACS/RIS → RME/SIMRS
Sistem radiologi mulai terhubung dengan sistem informasi rumah sakit.
Tahap kelima: Connected Imaging
Modalitas → PACS → DICOM Router → NIDR/SATUSEHAT → RME
Pada tahap ini, imaging mulai menjadi bagian dari ekosistem pertukaran data kesehatan.
Indonesia sedang bergerak menuju tahap tersebut.
Apa yang Berubah dengan SATUSEHAT RME?
Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa SATUSEHAT RME dirancang untuk menghubungkan data kesehatan pasien dari berbagai fasilitas pelayanan kesehatan dalam satu ekosistem.
Dengan pendekatan tersebut, data tidak lagi hanya terikat pada satu rumah sakit.
Secara konsep:
Pasien
↓
Fasilitas Kesehatan A
↓
Fasilitas Kesehatan B
↓
Fasilitas Kesehatan C
Data kesehatan dapat terhubung sepanjang fasilitas dan tenaga kesehatan memiliki akses sesuai kewenangan serta mekanisme persetujuan yang berlaku.
Yang menarik untuk dunia radiologi adalah bahwa data radiologi termasuk dalam data yang diintegrasikan dalam ekosistem tersebut.
Artinya, imaging tidak lagi hanya menjadi urusan departemen radiologi.
Ia mulai menjadi bagian dari perjalanan data kesehatan pasien.
Lalu, Di Mana Posisi PACS?
Untuk memahami peran PACS, kita dapat melihat alur yang didokumentasikan SATUSEHAT.
Secara sederhana:
Order Pemeriksaan
↓
RIS / SIMRS
↓
Modality
↓
DICOM
↓
PACS
↓
DICOM Router
↓
NIDR / SATUSEHAT
↓
ImagingStudy
Sementara informasi klinis dan laporan radiologi dapat dikirim menggunakan resource FHIR yang terkait.
Dokumentasi SATUSEHAT menjelaskan bahwa ketika terdapat PACS, hasil pemindaian DICOM dari modality disimpan ke DICOM Storage di PACS. DICOM Router kemudian memproses data tersebut untuk diteruskan ke ekosistem SATUSEHAT.
Dengan demikian:
PACS menjadi salah satu titik penting dalam perjalanan data imaging dari mesin radiologi menuju ekosistem data kesehatan.
DICOM Bukan Sekadar Format File
Dalam dunia radiologi, DICOM sering dianggap hanya sebagai format file.
Padahal perannya lebih besar.
DICOM merupakan standar komunikasi dan pengelolaan informasi pencitraan medis.
Dokumentasi SATUSEHAT bahkan menjelaskan hierarki pencitraan DICOM:
Patient
↓
Study
↓
Series
↓
Instance
Struktur tersebut penting karena data imaging bukan sekadar kumpulan gambar.
Setiap gambar memiliki konteks pemeriksaan, pasien, modality, study, series, dan berbagai metadata.
Karena itu, kualitas PACS tidak hanya ditentukan oleh kapasitas storage.
Yang juga penting adalah:
- konsistensi metadata,
- integritas data,
- DICOM interoperability,
- accession number,
- modality worklist,
- routing,
- keamanan,
- dan kemampuan integrasi.
Mengapa Accession Number Menjadi Penting?
Dalam workflow radiologi, satu pemeriksaan harus dapat ditelusuri dari order sampai hasil.
Dokumentasi SATUSEHAT menjelaskan dua skenario terkait sumber Accession Number:
- Accession Number dikeluarkan oleh SIMRS.
- Accession Number dikeluarkan oleh RIS yang terhubung dengan SIMRS.
Kemudian alurnya dapat berlanjut:
Order
↓
Accession Number
↓
Worklist
↓
Modality
↓
DICOM
↓
PACS
↓
DICOM Router
↓
SATUSEHAT
Ini menunjukkan bahwa integrasi radiologi bukan sekadar menghubungkan dua aplikasi.
Yang harus terhubung adalah workflow dan identitas data.
PACS + RIS + SIMRS: Tiga Sistem yang Harus Berbicara
Dalam rumah sakit digital, kita sering menemukan istilah:
SIMRS
RIS
PACS
Ketiganya mempunyai fungsi berbeda.
SIMRS
Mengelola sistem informasi rumah sakit secara luas.
RIS
Mengelola workflow dan informasi radiologi.
PACS
Mengelola citra medis.
Masalah muncul ketika ketiganya bekerja seperti pulau-pulau terpisah.
Misalnya:
Dokter membuat order di SIMRS.
↓
Radiologi menerima order secara manual.
↓
Radiografer memasukkan data kembali.
↓
Gambar masuk ke PACS.
↓
Radiologist membaca di aplikasi lain.
↓
Laporan kembali diketik ke SIMRS.
Semakin banyak proses manual, semakin besar potensi:
- duplikasi input,
- kesalahan identitas,
- keterlambatan,
- data tidak sinkron,
- dan workflow yang tidak efisien.
Karena itu, integrasi menjadi sama pentingnya dengan fitur viewer.
PACS Modern Tidak Cukup Hanya “Bisa DICOM”
Pertanyaan:
“Apakah PACS Anda mendukung DICOM?”
sebenarnya baru langkah pertama.
Rumah sakit perlu bertanya lebih jauh.
Apakah PACS mendukung:
- DICOM Storage?
- DICOM Query/Retrieve?
- Modality Worklist?
- DICOMweb?
- integrasi RIS?
- integrasi SIMRS?
- integrasi RME?
- DICOM Router?
- advanced visualization?
- AI?
- audit trail?
- backup?
- disaster recovery?
- multi-site?
- cloud/hybrid?
- migrasi data?
Karena kebutuhan rumah sakit bukan hanya menyimpan image.
Kebutuhannya adalah:
mengelola perjalanan image dari acquisition sampai clinical use.
Dari PACS ke Enterprise Imaging
Inilah perubahan konsep yang perlu mulai dipahami rumah sakit.
PACS secara tradisional sangat erat dengan radiologi.
Tetapi konsep Enterprise Imaging lebih luas.
Data imaging dapat berasal dari:
- X-Ray
- CT
- MRI
- USG
- Mammography
- Nuclear Medicine
- Cath Lab
- Dental Imaging
- Dermatology
- Ophthalmology
- dan berbagai sumber imaging lainnya.
Pertanyaannya kemudian berubah.
Bukan:
“Bagaimana menyimpan gambar radiologi?”
Tetapi:
“Bagaimana organisasi mengelola seluruh aset imaging secara terintegrasi?”
Di sinilah PACS dapat berkembang menjadi bagian dari enterprise imaging infrastructure.
PACS dan AI: Dari Penyimpanan Menjadi Intelligent Imaging
Perubahan berikutnya adalah Artificial Intelligence.
Workflow tradisional:
Modality
↓
PACS
↓
Radiologist
Sedangkan workflow masa depan dapat menjadi:
Modality
↓
PACS
↓
AI
↓
PACS Viewer
↓
Radiologist
AI dapat digunakan untuk berbagai fungsi, tergantung algoritma, validasi, tujuan penggunaan, dan regulasi yang berlaku.
Misalnya:
- image prioritization,
- detection support,
- measurement,
- segmentation,
- quantification,
- comparison,
- workflow assistance.
Yang penting, AI tidak harus berdiri sebagai aplikasi terpisah.
Idealnya, hasil AI dapat masuk ke workflow imaging sehingga dokter tidak perlu berpindah-pindah aplikasi.
Inilah konsep:
Intelligent Imaging.
Cloud PACS: Apakah Rumah Sakit Harus Memiliki Server Sendiri?
Tidak selalu.
Pilihan arsitektur PACS dapat berupa:
On-Premise
Server berada di lingkungan rumah sakit.
Cloud
Infrastruktur berada pada lingkungan cloud.
Hybrid
Sebagian sistem berada di rumah sakit dan sebagian berada di cloud.
Masing-masing mempunyai kelebihan dan konsekuensi.
Pemilihannya perlu mempertimbangkan:
- volume imaging,
- jumlah modality,
- jumlah lokasi,
- bandwidth,
- security,
- kebutuhan availability,
- disaster recovery,
- biaya,
- kebijakan IT,
- dan kebutuhan ekspansi.
Untuk klinik atau fasilitas dengan infrastruktur IT terbatas, cloud PACS dapat menjadi salah satu model yang menarik.
Untuk rumah sakit besar dengan kebutuhan enterprise, hybrid atau on-premise juga dapat menjadi pilihan sesuai arsitektur organisasi.
PACS untuk Rumah Sakit Besar Tidak Sama dengan PACS untuk Klinik
Kesalahan lain adalah menganggap semua fasilitas kesehatan membutuhkan PACS dengan arsitektur yang sama.
Rumah sakit besar
Mungkin membutuhkan:
- multi-modality,
- multi-site,
- RIS,
- advanced visualization,
- AI,
- high availability,
- disaster recovery,
- enterprise storage.
Rumah sakit menengah
Mungkin membutuhkan:
- PACS,
- RIS,
- SIMRS integration,
- web viewer,
- storage,
- backup.
Klinik
Mungkin lebih membutuhkan:
- cloud PACS,
- web viewer,
- simple DICOM connectivity,
- sharing,
- secure remote access.
Karena itu, PACS seharusnya mengikuti kebutuhan fasilitas kesehatan, bukan sebaliknya.
PACS 2D dan 3D
Tidak semua pemeriksaan membutuhkan visualisasi 3D.
Namun untuk CT dan MRI tertentu, advanced visualization dapat memberikan kemampuan tambahan.
Teknologi seperti:
- MPR
- MIP
- MinIP
- CPR
- VRT
- 3D reconstruction
dapat digunakan untuk membantu visualisasi dan analisis citra.
PACS.co.id sendiri menyediakan PACS 2D serta advanced 3D viewer dengan fitur seperti MPR, MIP, MinIP, VRT, CPR dan berbagai fungsi pengukuran.
Ini menjadi salah satu area yang dapat dikembangkan menjadi clinical demonstration content, bukan hanya daftar fitur.
Apa yang Harus Dicari Rumah Sakit Saat Memilih PACS?
Sebelum memilih PACS, rumah sakit sebaiknya membuat checklist.
Clinical
- Apakah viewer nyaman digunakan?
- Apakah mendukung workflow radiologist?
- Apakah previous study mudah dibandingkan?
- Apakah tersedia advanced visualization?
Technical
- DICOM
- DICOMweb
- Worklist
- Storage
- Performance
- Scalability
Integration
- RIS
- SIMRS
- RME
- HL7
- FHIR
- SATUSEHAT
- AI
Security
- Authentication
- Authorization
- Audit trail
- Encryption
- Backup
- Disaster recovery
Business
- License
- Infrastructure
- Maintenance
- SLA
- Support
- Migration
- Total Cost of Ownership
Jangan hanya bertanya:
“Berapa harga PACS?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Berapa biaya dan kemampuan sistem selama lima sampai sepuluh tahun?”
PACS Indonesia: Peluang yang Sangat Besar
Indonesia memiliki karakteristik yang membuat kebutuhan imaging infrastructure menjadi menarik.
Fasilitas kesehatan tersebar di banyak wilayah.
Ketersediaan dokter spesialis juga tidak merata.
Pada saat yang sama, modality imaging terus berkembang.
Ini membuka peluang untuk:
PACS
Cloud
Teleradiology
AI
Interoperability
Bayangkan sebuah klinik di daerah memiliki X-Ray.
Tidak ada radiologist di lokasi.
Image dikirim secara aman melalui PACS.
↓
Radiologist di kota lain membuka viewer.
↓
Radiologist membuat expertise.
↓
Hasil dikembalikan ke fasilitas.
Model seperti ini menjadikan PACS bukan sekadar teknologi penyimpanan.
PACS dapat menjadi infrastruktur konektivitas layanan radiologi.
Tantangan Terbesar: Interoperabilitas
Teknologi PACS sebenarnya sudah berkembang sangat jauh.
Tantangan berikutnya adalah membuat semua sistem berbicara satu sama lain.
Bayangkan:
CT Vendor A
↓
PACS Vendor B
↓
RIS Vendor C
↓
SIMRS Vendor D
↓
AI Vendor E
↓
SATUSEHAT
Setiap sistem memiliki konfigurasi dan kebutuhan integrasi yang berbeda.
Karena itu, masa depan PACS bukan hanya tentang:
“Siapa yang punya viewer paling bagus?”
Tetapi juga:
“Siapa yang paling mampu membuat seluruh imaging ecosystem bekerja bersama?”
Masa Depan PACS Indonesia
Jika melihat arah perkembangan teknologi kesehatan saat ini, perjalanan PACS dapat digambarkan sebagai berikut:
PACS 1.0
Store
Menyimpan image.
PACS 2.0
View
Menampilkan image.
PACS 3.0
Share
Mendistribusikan image.
PACS 4.0
Integrate
Menghubungkan imaging dengan RIS, SIMRS, RME dan sistem lainnya.
PACS 5.0
Intelligence
Mengintegrasikan AI, advanced visualization dan analytics ke dalam workflow.
Indonesia sedang bergerak menuju tahap integrated dan intelligent imaging.
Pertanyaan yang Akan Semakin Penting bagi Rumah Sakit
Dalam beberapa tahun ke depan, pertanyaan rumah sakit tentang PACS kemungkinan tidak lagi berhenti pada:
“Apakah PACS bisa menyimpan CT Scan?”
Tetapi akan berkembang menjadi:
Apakah PACS dapat terintegrasi dengan RIS?
Apakah PACS dapat terhubung dengan RME?
Apakah workflow dapat terhubung dengan SIMRS?
Bagaimana DICOM Router bekerja?
Bagaimana data imaging dikirim ke SATUSEHAT?
Bagaimana AI dapat masuk ke workflow radiologi?
Bagaimana data disimpan selama 10 tahun?
Bagaimana disaster recovery dilakukan?
Bagaimana dokter di lokasi lain mengakses imaging secara aman?
Bagaimana rumah sakit menghindari vendor lock-in?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa PACS telah berubah dari aplikasi radiologi menjadi bagian dari strategi infrastruktur digital rumah sakit.
Kesimpulan
PACS sedang memasuki babak baru.
Dulu:
PACS = tempat menyimpan gambar.
Sekarang:
PACS = image management + workflow + interoperability.
Ke depan:
PACS = bagian dari intelligent imaging infrastructure.
Peluncuran SATUSEHAT RME dan dokumentasi teknis integrasi radiologi menunjukkan bahwa data imaging semakin menjadi bagian dari ekosistem data kesehatan nasional.
Dalam arsitektur yang didokumentasikan SATUSEHAT, PACS dapat menjadi titik penting antara modality dan ekosistem pertukaran data, dengan DICOM Router sebagai komponen yang meneruskan data imaging ke lingkungan SATUSEHAT/NIDR.
Karena itu, masa depan PACS Indonesia bukan hanya tentang berapa banyak gambar yang dapat disimpan.
Masa depannya adalah:
Seberapa baik imaging dapat dihubungkan, diakses, dipahami, dan dimanfaatkan dalam perjalanan pelayanan pasien.
Dan ketika radiologi bergerak dari digital imaging menuju connected imaging dan akhirnya intelligent imaging, PACS akan menjadi salah satu fondasi penting dari transformasi tersebut.
PACS.co.id
PACS Indonesia untuk Digital & Intelligent Medical Imaging.
Dari DICOM → PACS → RIS → 3D → AI → Interoperability, membangun imaging ecosystem untuk fasilitas kesehatan Indonesia.
Referensi
- Kementerian Kesehatan RI — SATUSEHAT RME.
- SATUSEHAT Platform — ImagingStudy.
- SATUSEHAT Platform — DICOM Router.
- SATUSEHAT Platform — Arsitektur DICOM.
- SATUSEHAT Platform — Alur interoperabilitas pemeriksaan radiologi.
- PACS.co.id — Fitur PACS dan 3D Viewer.

