PACS Rumah Sakit di Era SATUSEHAT 2026

Khaeruddin Asdar Avatar
PACS Rumah Sakit di Era SATUSEHAT 2026

DICOM, HL7 FHIR, AI Radiologi, dan Keamanan Data Medis

PACS rumah sakit memasuki babak baru pada 2026. Sistem penyimpanan dan distribusi gambar medis tidak lagi cukup hanya mampu menerima gambar dari CT Scan, MRI, X-Ray, atau USG.

Di era transformasi digital kesehatan Indonesia, PACS harus mampu menjadi bagian dari ekosistem yang lebih besar: SIMRS, EMR/RME, RIS, DICOM, HL7 FHIR, SATUSEHAT, DICOM Router, National Imaging Data Repository (NIDR), cloud, cybersecurity, dan artificial intelligence (AI).

Perubahan ini semakin relevan setelah Kementerian Kesehatan meluncurkan SATUSEHAT Rekam Medis Elektronik (RME) pada 1 September 2026. Kemenkes menyatakan bahwa data yang diintegrasikan mencakup diagnosis, laboratorium, obat, tindakan medis, tanda vital, dan radiologi.

Artinya, masa depan PACS rumah sakit bukan lagi sekadar:

“menyimpan gambar radiologi.”

Tetapi:

“menghubungkan data imaging dengan ekosistem rekam medis digital nasional secara aman dan interoperabel.”


Apa Itu PACS Rumah Sakit?

PACS (Picture Archiving and Communication System) adalah sistem yang digunakan untuk menyimpan, mengelola, mendistribusikan, dan menampilkan citra medis secara digital.

PACS dapat terhubung dengan berbagai modality, antara lain:

  • CT Scan
  • MRI
  • X-Ray
  • USG
  • Mammography
  • Cath Lab
  • PET/CT
  • DSA
  • Dental X-Ray

Data gambar medis umumnya menggunakan standar DICOM (Digital Imaging and Communications in Medicine).

Dalam arsitektur tradisional:

Modality → DICOM → PACS → DICOM Viewer

Namun pada arsitektur rumah sakit modern, alurnya menjadi jauh lebih kompleks:

Modality → DICOM Router → PACS/NIDR → SATUSEHAT → EMR/SIMRS → Dokter

Perubahan arsitektur inilah yang perlu dipahami rumah sakit pada 2026.


Mengapa PACS 2026 Berbeda dengan PACS Lama?

PACS generasi sebelumnya umumnya berfokus pada tiga hal:

  1. menerima gambar;
  2. menyimpan gambar;
  3. menampilkan gambar.

PACS modern harus mempertimbangkan lebih banyak aspek:

  • Interoperabilitas
  • Integrasi SATUSEHAT
  • DICOM
  • HL7 FHIR
  • DICOMweb
  • Cybersecurity
  • Cloud infrastructure
  • Disaster recovery
  • AI imaging
  • Audit trail
  • Data governance
  • High availability
  • Scalability

Dengan demikian, memilih PACS tidak lagi hanya membandingkan fitur viewer atau harga storage.

Rumah sakit harus melihat PACS sebagai bagian dari arsitektur digital rumah sakit.


SATUSEHAT dan Masa Depan Data Radiologi

SATUSEHAT menggunakan HL7 FHIR sebagai standar pertukaran data kesehatan. Platform SATUSEHAT juga menyediakan mekanisme interoperabilitas untuk berbagai sistem informasi kesehatan.

Untuk radiologi, SATUSEHAT telah menyediakan konsep ImagingStudy.

Dalam arsitektur yang dijelaskan SATUSEHAT, informasi pemeriksaan DICOM dapat dikirim melalui DICOM Router menuju repository imaging, kemudian informasi pemeriksaan direpresentasikan menggunakan resource FHIR ImagingStudy.

Secara sederhana:

CT/MRI/X-Ray

↓

DICOM

↓

DICOM Router

↓

Imaging Repository / NIDR

↓

FHIR ImagingStudy

↓

SATUSEHAT

↓

RME / aplikasi klinis

Ini merupakan perubahan besar dalam cara rumah sakit memandang sistem PACS.


DICOM dan HL7 FHIR: Mengapa Keduanya Sama-Sama Penting?

Salah satu kesalahan dalam memahami interoperabilitas rumah sakit adalah menganggap DICOM dan HL7 FHIR sebagai teknologi yang saling menggantikan.

Keduanya memiliki fungsi yang berbeda.

DICOM

DICOM digunakan untuk kebutuhan imaging medis, termasuk:

  • gambar;
  • metadata imaging;
  • komunikasi modality;
  • penyimpanan study;
  • query/retrieve;
  • workflow imaging.

HL7 FHIR

FHIR digunakan untuk pertukaran informasi kesehatan secara interoperabel.

Dalam konteks radiologi, FHIR dapat membawa informasi mengenai:

  • pasien;
  • encounter;
  • service request;
  • imaging study;
  • observation;
  • diagnostic report.

SATUSEHAT menggunakan HL7 FHIR sebagai standar interoperabilitas, sementara data imaging tetap memiliki dunia DICOM-nya sendiri.

Karena itu, PACS modern harus dapat beroperasi di dua dunia interoperabilitas:

DICOM untuk imaging

dan

FHIR untuk pertukaran informasi kesehatan.


Apa Peran DICOM Router?

DICOM Router menjadi semakin penting dalam arsitektur radiologi modern.

DICOM Router dapat berfungsi sebagai penghubung antara:

Modality

dan

PACS / Imaging Repository / sistem eksternal.

Dalam arsitektur SATUSEHAT, Kemenkes menjelaskan bahwa DICOM Router memperoleh file DICOM dari PACS, mengirimkannya ke repository imaging, kemudian mengirim informasi ImagingStudy melalui API ke SATUSEHAT.

Dengan pendekatan ini, PACS tidak harus diposisikan sebagai satu-satunya pusat seluruh proses.

Arsitektur dapat menjadi lebih modular:

Modality

→ DICOM Router

→ PACS

→ Imaging Repository

→ SATUSEHAT

→ SIMRS/EMR


PACS dan NIDR

Salah satu perkembangan penting dalam ekosistem SATUSEHAT adalah konsep National Imaging Data Repository (NIDR).

Dalam dokumentasi SATUSEHAT, data DICOM dapat dikirim ke NIDR dan sistem kemudian menghasilkan WADO URL yang dapat digunakan untuk mengakses hasil pencitraan yang tersimpan.

Hal ini menunjukkan bahwa masa depan imaging nasional akan semakin bergeser dari sistem yang sepenuhnya terisolasi di masing-masing rumah sakit menuju ekosistem pertukaran data yang lebih terintegrasi.

Bagi rumah sakit, konsekuensinya adalah:

PACS harus dirancang dengan mempertimbangkan interoperabilitas sejak awal, bukan sebagai fitur tambahan setelah sistem selesai dibangun.


Permenkes 6 Tahun 2026 dan Transformasi Sistem Rumah Sakit

Pada 2026, terdapat perubahan penting dalam regulasi rumah sakit.

Permenkes Nomor 6 Tahun 2026 tentang Rumah Sakit ditetapkan pada 4 Juni 2026 dan diundangkan pada 12 Juni 2026. Regulasi ini berstatus berlaku dan mencabut sejumlah regulasi sebelumnya, termasuk beberapa aturan yang berkaitan dengan penyelenggaraan sistem informasi rumah sakit.

Artinya, rumah sakit yang sedang melakukan pengadaan atau pengembangan sistem digital perlu melihat kembali arsitektur sistemnya berdasarkan kerangka regulasi terbaru.

PACS sebaiknya tidak dibangun sebagai sistem yang berdiri sendiri.

Integrasi dengan:

SIMRS + RME + RIS + SATUSEHAT

semakin penting.


Permenkes 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis Masih Relevan

Permenkes Nomor 24 Tahun 2022 tentang Rekam Medis masih tercatat berlaku pada JDIH Kementerian Kesehatan.

SATUSEHAT juga menjelaskan bahwa Permenkes 24/2022 menjadi salah satu dasar integrasi/interoperabilitas data rekam medis dengan platform SATUSEHAT.

Karena itu, implementasi PACS perlu dilihat dalam konteks pengelolaan RME secara keseluruhan.

PACS menyimpan data yang sangat penting dalam rekam medis pasien.

Dengan demikian, persoalan seperti:

  • siapa yang boleh mengakses gambar;
  • bagaimana data dikirim;
  • bagaimana data disimpan;
  • bagaimana akses dicatat;
  • bagaimana data dicadangkan;
  • bagaimana data dipulihkan;

bukan sekadar persoalan teknis IT.

Ini juga merupakan bagian dari governance data kesehatan.


Data Radiologi Termasuk Data Pribadi yang Sangat Sensitif

Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2022 tentang Pelindungan Data Pribadi mengategorikan data dan informasi kesehatan sebagai data pribadi yang bersifat spesifik.

Karena PACS menyimpan data pasien dan citra medis, keamanan harus menjadi bagian fundamental dari desain sistem.

Beberapa komponen yang perlu diperhatikan rumah sakit antara lain:

Access Control

Tidak semua pengguna boleh melihat seluruh data radiologi.

Authentication

Sistem harus memastikan identitas pengguna sebelum memberikan akses.

Audit Trail

Aktivitas pengguna perlu dapat dilacak.

Encryption

Data perlu dilindungi ketika disimpan maupun ketika ditransmisikan sesuai kebutuhan dan arsitektur keamanan.

Backup

PACS membutuhkan strategi backup yang teruji.

Disaster Recovery

Rumah sakit harus memiliki rencana pemulihan ketika server atau storage mengalami kegagalan.

High Availability

Untuk rumah sakit dengan volume pemeriksaan tinggi, downtime PACS dapat langsung mempengaruhi workflow klinis.


PACS dan Artificial Intelligence

Perubahan berikutnya yang sangat besar adalah AI dalam medical imaging.

AI dapat digunakan untuk berbagai fungsi, misalnya:

  • computer-aided detection;
  • triage;
  • image segmentation;
  • quantification;
  • reconstruction;
  • workflow prioritization;
  • clinical decision support.

Namun AI tidak boleh dipandang hanya sebagai “fitur tambahan”.

Kemenkes pada 2026 menekankan bahwa pemanfaatan AI kesehatan harus disertai tata kelola yang kuat, etika, keselamatan pasien, dan aturan yang adaptif.

Karena itu, PACS masa depan perlu dipersiapkan untuk AI-ready workflow.

Contohnya:

CT Scan

↓

PACS

↓

AI Engine

↓

AI Result

↓

Radiologist

↓

Final Report

AI membantu proses analisis, tetapi keputusan klinis tetap membutuhkan tata kelola dan pengawasan yang tepat.


AI dalam PACS: Bukan Sekadar Chatbot

AI imaging berbeda dengan chatbot generatif biasa.

AI radiologi dapat memproses data gambar medis secara langsung untuk fungsi tertentu.

Di tingkat global, FDA mencatat bahwa jumlah perangkat medis berkemampuan AI yang telah diotorisasi di Amerika Serikat telah mencapai lebih dari 1.600 perangkat per September 2026.

FDA juga mengatur perangkat lunak pemrosesan citra radiologi berbasis AI sebagai medical device dengan pendekatan berbasis risiko.

Ini menunjukkan bahwa AI medical imaging sudah bergerak dari sekadar eksperimen teknologi menuju bagian dari ekosistem klinis yang membutuhkan validasi, governance, dan pengawasan.


PACS + AI + FHIR: Arah Baru Radiologi

Arsitektur masa depan dapat terlihat seperti:

Modality

↓

DICOM

↓

PACS / DICOM Router

↓

AI Engine

↓

AI Result

↓

FHIR / Clinical System

↓

EMR / SATUSEHAT

Dengan arsitektur seperti ini, PACS bukan lagi sekadar “hard disk rumah sakit”.

PACS menjadi bagian dari clinical data infrastructure.


DICOMweb dan Akses Imaging Modern

Perkembangan lain yang penting adalah penggunaan pendekatan web untuk mengakses data DICOM.

Teknologi seperti:

  • DICOMweb
  • QIDO-RS
  • WADO-RS
  • STOW-RS

memungkinkan pengelolaan dan pertukaran data imaging menggunakan mekanisme berbasis web.

Ini membuka peluang untuk:

  • web viewer;
  • cloud PACS;
  • remote reading;
  • teleradiology;
  • integrasi aplikasi;
  • AI pipeline;
  • interoperabilitas imaging.

Namun implementasi harus tetap mempertimbangkan keamanan, performa jaringan, autentikasi, authorization, dan kebutuhan klinis.


Cloud PACS vs On-Premise PACS

Pada 2026, pertanyaan rumah sakit bukan lagi sekadar:

“Cloud atau server sendiri?”

Pertanyaannya menjadi:

“Arsitektur mana yang paling sesuai dengan kebutuhan klinis, keamanan, regulasi, biaya, konektivitas, dan pertumbuhan data rumah sakit?”

On-Premise

Kelebihan:

  • kontrol infrastruktur tinggi;
  • dapat disesuaikan dengan jaringan internal;
  • tidak bergantung sepenuhnya pada koneksi internet eksternal.

Cloud

Kelebihan:

  • lebih mudah melakukan scaling;
  • fleksibel untuk pertumbuhan storage;
  • mendukung akses lintas lokasi;
  • dapat mendukung disaster recovery dengan desain yang tepat.

Hybrid

Untuk banyak organisasi, pendekatan hybrid dapat menjadi pilihan:

Local PACS + Cloud Backup + Remote Access

Dengan demikian, rumah sakit dapat menggabungkan kebutuhan performa lokal dengan kebutuhan disaster recovery dan akses jarak jauh.


Bagaimana Memilih PACS Rumah Sakit pada 2026?

Rumah sakit sebaiknya menggunakan checklist yang lebih komprehensif.

1. DICOM Compatibility

Apakah PACS dapat berkomunikasi dengan seluruh modality?

2. SATUSEHAT Integration

Apakah arsitektur siap mendukung integrasi SATUSEHAT?

3. HL7 FHIR

Apakah sistem memiliki kemampuan interoperabilitas modern?

4. DICOM Router

Apakah tersedia mekanisme routing yang fleksibel?

5. DICOMweb

Apakah sistem siap mendukung akses imaging berbasis web?

6. Advanced Viewer

Apakah tersedia:

  • MPR?
  • MIP?
  • VRT?
  • measurement?
  • comparison?
  • annotation?

7. AI Integration

Apakah PACS dapat menjadi bagian dari workflow AI?

8. Security

Apakah tersedia:

  • authentication;
  • authorization;
  • audit trail;
  • encryption;
  • logging?

9. Backup & Disaster Recovery

Bagaimana sistem menghadapi:

  • server failure;
  • ransomware;
  • storage failure;
  • network failure;
  • disaster?

10. Scalability

Apakah PACS dapat menangani pertumbuhan jumlah CT Scan, MRI, X-Ray, dan modality lainnya?


Menghitung Kebutuhan Storage PACS

Storage merupakan salah satu komponen biaya terbesar dalam implementasi PACS.

Kebutuhan storage tidak hanya ditentukan oleh jumlah pasien.

Perhitungannya perlu mempertimbangkan:

Jumlah pemeriksaan × ukuran rata-rata study × pertumbuhan tahunan × periode retensi

Contoh:

Jika rumah sakit melakukan 100 pemeriksaan CT per hari dan rata-rata satu study berukuran 500 MB:

100 × 500 MB = 50 GB/hari

Dalam satu tahun:

50 GB × 365 = sekitar 18,25 TB/tahun

Dan angka tersebut belum memperhitungkan:

  • MRI;
  • X-Ray;
  • USG;
  • backup;
  • redundancy;
  • replication;
  • disaster recovery;
  • pertumbuhan volume pemeriksaan.

Karena itu, desain storage PACS harus dilakukan berdasarkan data nyata rumah sakit.


PACS Tidak Boleh Hanya Dinilai dari Harga

Harga software PACS hanyalah salah satu komponen.

Rumah sakit sebaiknya menghitung total cost of ownership (TCO):

Software

Server

Storage

Backup

Network

Security

Viewer

Support

Maintenance

Disaster Recovery

Upgrade

Dalam jangka panjang, sistem yang tampak murah di awal dapat menjadi mahal jika sulit diintegrasikan atau tidak mampu mengikuti pertumbuhan volume imaging.


Masa Depan PACS Rumah Sakit Indonesia

Dengan peluncuran SATUSEHAT RME pada September 2026, integrasi data kesehatan Indonesia memasuki fase yang semakin terstruktur.

Radiologi merupakan salah satu bagian penting dari ekosistem tersebut.

Masa depan PACS bukan lagi:

Modality → PACS → Viewer

Tetapi semakin menuju:

Modality

↓

DICOM

↓

PACS / DICOM Router

↓

Imaging Repository

↓

AI

↓

HL7 FHIR

↓

SATUSEHAT

↓

EMR / SIMRS

↓

Dokter dan pasien

Kemenkes sendiri mencatat bahwa interoperabilitas radiologi membutuhkan standardisasi karena terdapat variasi nama dan kode pemeriksaan radiologi di berbagai instalasi. SATUSEHAT menggunakan LOINC sebagai salah satu vocabulary untuk mendukung standardisasi pertukaran data radiologi.

Dengan demikian, tantangan PACS di masa depan bukan hanya kapasitas storage.

Tantangannya adalah:

interoperabilitas + keamanan + standardisasi + AI + scalability + clinical workflow.


PACS.co.id dan Transformasi Digital Radiologi

Dalam kondisi tersebut, rumah sakit membutuhkan partner teknologi yang memahami bahwa PACS bukan sekadar aplikasi penyimpanan gambar.

Implementasi PACS perlu mempertimbangkan keseluruhan ekosistem:

Modality → DICOM → PACS → Viewer → RIS → SIMRS → EMR → SATUSEHAT

PACS.co.id dapat diposisikan sebagai bagian dari perjalanan rumah sakit menuju digital radiology dan filmless hospital, dengan fokus pada pengelolaan citra medis, integrasi, interoperabilitas, dan kebutuhan workflow radiologi modern.

Namun implementasi setiap rumah sakit harus disesuaikan dengan kondisi infrastrukturnya masing-masing.


Kesimpulan

PACS rumah sakit pada 2026 telah berubah dari sekadar sistem penyimpanan gambar menjadi bagian dari infrastruktur data klinis.

Peluncuran SATUSEHAT RME pada September 2026 memperkuat arah integrasi data kesehatan nasional, termasuk data radiologi.

Karena itu, rumah sakit yang sedang memilih atau melakukan upgrade PACS sebaiknya tidak hanya bertanya:

“Berapa kapasitas storage PACS?”

Tetapi juga:

“Apakah PACS kami siap untuk SATUSEHAT, DICOM, HL7 FHIR, AI, cybersecurity, cloud, dan pertumbuhan imaging lima sampai sepuluh tahun ke depan?”

PACS yang dirancang dengan pendekatan interoperabilitas dan keamanan akan lebih siap menjadi fondasi radiologi digital, filmless hospital, teleradiology, dan AI-enabled medical imaging.


FAQ PACS Rumah Sakit 2026

Apa itu PACS?

PACS adalah sistem untuk menyimpan, mengelola, mengirimkan, dan menampilkan citra medis secara digital.

Apakah PACS wajib terintegrasi dengan SATUSEHAT?

Implementasi integrasi mengikuti ketentuan dan use case SATUSEHAT yang berlaku bagi fasilitas kesehatan. SATUSEHAT menyediakan mekanisme interoperabilitas RME menggunakan HL7 FHIR dan telah menyediakan alur khusus untuk data radiologi.

Apa hubungan PACS dengan SATUSEHAT?

PACS mengelola citra medis berbasis DICOM, sedangkan SATUSEHAT menggunakan HL7 FHIR untuk pertukaran informasi kesehatan. DICOM Router dapat menjadi salah satu komponen penghubung dalam workflow radiologi SATUSEHAT.

Apa itu DICOM Router?

DICOM Router adalah komponen yang mengatur pengiriman atau routing data DICOM antara modality, PACS, repository imaging, dan sistem lainnya.

Apakah PACS bisa menggunakan AI?

Bisa. PACS dapat dirancang untuk terhubung dengan AI imaging untuk fungsi seperti detection, triage, segmentation, atau quantification, dengan tetap memperhatikan validasi, keselamatan pasien, dan tata kelola AI.

Apakah data PACS termasuk data pribadi?

Data dan informasi kesehatan termasuk kategori data pribadi yang bersifat spesifik berdasarkan UU Pelindungan Data Pribadi.

Apa standar utama PACS?

DICOM merupakan standar utama untuk imaging medis, sementara HL7 FHIR semakin penting untuk interoperabilitas informasi kesehatan dengan sistem seperti SATUSEHAT.

Apakah PACS masa depan akan menggunakan cloud?

Cloud merupakan salah satu pilihan arsitektur. Rumah sakit dapat memilih on-premise, cloud, atau hybrid berdasarkan kebutuhan keamanan, performa, konektivitas, biaya, dan disaster recovery.